Category: BELAJAR BIJAK


Bahasa Bagi Para Penulis Blog

image

Bahasa merupakan sumber utama kekuatan sebuah BLOG ataupun Social Media seperti Tweeter, Facebook, Fupei, dan sebagainya karena memegang peranan penting baik secara teknis dan non teknis. Tidak jarang penggunaan kata ataupun kalimat yang ada dalam varian penyebutan, justru menyebabkan kebingungan dalam proses pemahaman. Padahal menurut penulis, tujuan utama penyebarluasan informasi lewat tulisan BLOG dan Social Media yang hadir secara OnLine adalah memberikan wawasan, pengetahuan, dan informasi bagi khalayak.

Lantas bagaimanakah jika arti ataupun makna kata, kalimat, ataupun tulisan didalamnya bila tidak dimengerti pembaca? Apakah cukup hanya mengandalkan Feedback Form atau lebih dikenal sebagai Formulir Tanggapan saja, dan hanya bisa dikomentari atau ditanggapi belakangan. Hal-hal inilah yang terkadang cukup dianggap sepele oleh para penulis, ataupun pembuat status (bagi Social Media). Walaupun nantinya akan ada banyak alasan yang bisa menjadi pembenaran.

Continue reading

Advertisements

Tulisan ini sengaja (berusaha) diketik secara serius oleh penulis, dengan tujuan menyikapi perkembangan terhadap teknologi didunia pada umumnya, serta Indonesia pada khususnya. Hal ini terkait dengan banyaknya pencitraan secara negatif ataupun positif dari berbagai kubu pendukung sebuah teknologi. Dalam hal ini yang paling dominan adalah dari kubu open source dan kubu software berbayar (proprietary), yang sering disebut kalau soal merk ialah perseteruan pendukung LINUX vs Microsoft WINDOWS. Walaupun masih banyak platform teknologi lain dan juga berbobot yang sering luput dalam penilaian secara umum.

Pengguna Linux mengusung tema bahwa setiap orang atau individu berhak mendapatkan, memiliki, dan merasakan teknologi yang murah (ada yang beranggapan gratis). Walaupun secara pribadi penulis kurang sepaham dengan makna kata gratis. Kenyataannya walaupun didistribusikan secara gratis, dalam prosesnya juga tidak demikian. Setidaknya minimal ada ongkos bandwith yang harus dibayar, ataupun biaya beli materi penggandaan. Jadi lebih ditekankan pada murah, yang istilah kerennya disebut dengan Low Cost.

Teknologi harus bisa dikembangkan tanpa ada batasan, dan semuanya yang dihasilkan bisa didistribusikan secara gratis, bisa digandakan, serta dikembangkan ulang secara sah dan tentunya halal. Inilah tembok batasan besar yang tidak bisa dilakukan oleh perusahaan pengembang seperti Microsoft yang nyata-nyata menjual teknologinya dengan mahal, walaupun sebetulnya banyak produk yang tidak diketahui publik telah di release secara gratis.

Ayo Baca Lanjutannya READ MORE

image Idul, dari pengertian yang sering penulis dengar artinya adalah Kembali. Bling-bling, salah satu bahasa gaul (prokem) yang artinya berkilauan, mengadopsi dari kata ‘Bling’ yang identik digunakan untuk menggambarkan sifat glamour, mencolok, dan sebagainya. Banyak pengertian lain yang bisa digunakan, bagi beberapa kalangan, penggunaan kata bling-bling sudah umum untuk disebutkan.

Saat ini baru saja Islam salah satu agama samawi yang memiliki umat terbesar di dunia, umatnya menunaikan ibadah Puasa Ramadhan, dan beberapa saat lalu merayakan peringatan Hari Raya Idul Fitri. Tapi, kenapa judul tulisan ini “Idul Bling – Bling” ? Apa mau membuat hari besar yang baru ? Jawabannya cuma satu, karena Ironi !

Iseng – iseng penulis baru saja nonton salah satu tayangan infotainment di televisi, seorang artis (kalo boleh disebut sih Syahrini) barusan jadi obyek infotainment Intens. Diliput karena topik perayaan Idul Fitri bersama keluarga. Maklumlah artis, harus dandan yang kinclong, bahkan sekeluarganya tampil penuh perhiasan dan asesoris yang bling-bling, membalut busana muslimah.

Kalo diluar negeri, kabarnya artis yang mau diliput infotainment harus bayar buat para pewarta infotainment. Kalo disini malah kebalik, bisa memudahkan buat pekerja pencari berita. Dan dibeberapa tayangan lain, baik talk show, reality show, juga ada beberapa gambaran yang menunjukkan tayangan dengan pemandangan bling-bling.

Nah, dua hari sebelum hari H Lebaran yang jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, penulis asyik jalan-jalan ke Plaza Surabaya, salah satu mall yang ada di kota Pahlawan. Niatnya sih cuman jalan-jalan saja, lagipula waktu itu akhir pekan, jalanan lengang, jadi kemungkinan pasti asyik juga lihat mall yang agak sepi. Dan ternyata salah besar !!

Ayo Baca Lanjutannya READ MORE

Kesederhanaan Sebuah Keruwetan

 Pernahkan diantara para pembaca tulisan ini merasakan gundah gulana tanpa sebab ? Atau mengingat peristiwa dimana episodenya diputar beberapa seri, diwaktu yang sama. Dan pastinya bikin kepala pusing.

Sambil ditemani televisi yang stasiunnya (kalo boleh disebut channelnya sih RCTI) menayangkan film detektif agen rahasia laki-laki dengan gaya aristokrat konyol yang didampingi agen rahasia wanita yang tampil macho, dan judul filmnya masih gak jelas. Catatan kecil ini dibuat karena penulis baru saja mengalami beberapa kilasan peristiwa yang terjadi dalam pikiran dalam satu kesatuan waktu. Yups, bukan secara berurutan namun ledakan ingatan akan peristiwa dalam pikiran bagaikan diputar dalam waktu yang bersamaan.

Masih tetap membahas kejadian yang barusa saja penulis alami di warung kopi kawasan pasar Pucang Surabaya yang sederhana kali ini ada sedikit kejutan. Awalnya sih niatnya hanya datang bersama seorang sahabat  untuk tukar  data guna kepentingan pembuatan proyek kecil-kecilan yang dibikin karena mengisi kekosongan, dan bukan karena orderan.  Dan sambil menanti proses tukar data, pembicaraan serius sambil diselingi canda tawa, serta ditemani segelas (bukan secangkir) kopi susu yang merupakan minuman hangat pertama sore itu untuk berbuka puasa.

Hingga datanglah seorang kawan menekami kami ini dua makhluk Tuhan yang lagi mangkir nggak sholat tarawih, dan kawan ini identitas serta gender sengaja penulis tidak sebutkan untuk melindungi keamanan. Kawan kami hingga saat tulisan ini dibuat masih saja berkutat dengan masalah dilema cinta dan ironis hidup yang dilihat semakin kompleks dan ruwet.

Ayo Baca Lanjutannya READ MORE