Pernahkan diantara para pembaca tulisan ini merasakan gundah gulana tanpa sebab ? Atau mengingat peristiwa dimana episodenya diputar beberapa seri, diwaktu yang sama. Dan pastinya bikin kepala pusing.

Sambil ditemani televisi yang stasiunnya (kalo boleh disebut channelnya sih RCTI) menayangkan film detektif agen rahasia laki-laki dengan gaya aristokrat konyol yang didampingi agen rahasia wanita yang tampil macho, dan judul filmnya masih gak jelas. Catatan kecil ini dibuat karena penulis baru saja mengalami beberapa kilasan peristiwa yang terjadi dalam pikiran dalam satu kesatuan waktu. Yups, bukan secara berurutan namun ledakan ingatan akan peristiwa dalam pikiran bagaikan diputar dalam waktu yang bersamaan.

Masih tetap membahas kejadian yang barusa saja penulis alami di warung kopi kawasan pasar Pucang Surabaya yang sederhana kali ini ada sedikit kejutan. Awalnya sih niatnya hanya datang bersama seorang sahabat  untuk tukar  data guna kepentingan pembuatan proyek kecil-kecilan yang dibikin karena mengisi kekosongan, dan bukan karena orderan.  Dan sambil menanti proses tukar data, pembicaraan serius sambil diselingi canda tawa, serta ditemani segelas (bukan secangkir) kopi susu yang merupakan minuman hangat pertama sore itu untuk berbuka puasa.

Hingga datanglah seorang kawan menekami kami ini dua makhluk Tuhan yang lagi mangkir nggak sholat tarawih, dan kawan ini identitas serta gender sengaja penulis tidak sebutkan untuk melindungi keamanan. Kawan kami hingga saat tulisan ini dibuat masih saja berkutat dengan masalah dilema cinta dan ironis hidup yang dilihat semakin kompleks dan ruwet.

Namun masih belum saja belajar menyederhanakan kekompleksan dan keruwetan agar bisa lebih sederhana dalam menyelesaikan persoalan. Padahal,  dari sisi kepintaran, kemapanan, dan finansial dan performance,  sangat ideal. Tapi masih aja ngerasa susah.

Setelah curhat singkat sambil diiringi alunan musik dangdut dari speaker penjual VCD yang ada disebelah. Kawan kami yang mapan dan lagi patah hati ini harus segera ke pasar, karena mendapatkan misi mencari beberapa barang yang menjadi ‘syarat’ dari sebuah amanah yang sedang di embannya. Sayangnya kok nggak bisa menikmati suasana warung yang ramai hiburan, dan mencicipi hidangan jajanan yang lagi komplit.

Yang kembali menyentak penulis hingga menuangkan cerita lewat tulisan ini, saat sedang asyik menikmati kopi susu ditemani gorengan dadar jagung serta sate cecek, ialah hadirnya seorang adik kecil penjaja koran. Datang tidak untuk meminta uang atau menjual korannya. Tapi meminta minum, yang artinya meminta dibelikan minum karena haus. “Mas, nyuwun (minta) belikan minum ya mas, apa saja nggak apa-apa”, ujar si adik penjaja koran.

Kamipun menawarkan uang, tapi ditolak. Menawarkan makanan berupa nasi bungkus agar dibawa pulang, juga ditolak. Dengan nada halus dan sambil tersenyum  anak tersebut berkata, “Suwun (terima kasih) mas, tadi sudah makan kok. Ini cuman haus, jadi minta tolong kalo boleh belikan minum. Minuman apa saja, mboten nopo-nopo (tidak apa-apa)”.

Dari segi penampilan, si adik kecil ini juga termasuk rapi. Masih mengenakan baju takwa, rapi dan bersih. Berarti setidaknya adik kecil tersebut sempat beribadah sholat maghrib di masjid / musholla dan menikmati makanan takjil. Benar atau tidaknya asumsi penulis, ini adalah pikiran positif pertama yang tersirat saat itu. Yups, just positif thinking ! Mungkin gara-gara penulis sering ikut gerakan Para Pencari Takjil setelah sholat Maghrib di Masjid dan Mushola. Hehehehehe !

Seorang anak kecil yang masih bergulat dengan hari walaupun telah malam, tidak meninggalkan ibadah. Mencari rezeki rupiah demi rupiah yang dihasilkan dari selisih penjualan koran. Berjuang melawan hari dengan diiringi senyuman hingga hari sudah malam. Dan berusaha mencoba mencari perhatian sebuah uluran tangan, untuk mencari penawar rasa dahaga. Ya, hanya segelas es teh (yang dimasukkan dalam kantong plastik) yang diinginkannya. Meminta dengan senyuman, tanpa menunjukan ekspresi memelas, dan dihiasi wajah yang ceria.

Si adik penjaja koran mengajarkan penulis adanya sebuah permintaan yang bijak yang diminta karena kebutuhan. Si adik kecil tersebut menolak seluruh tawaran yang sebetulnya jika ditakar  justru jatuhnya jauh lebih berharga dan lebih mahal alias untung. Si adik kecil malah membuat permintaan sederhana sesuai kebutuhan, tanpa ada keserakahan, dengan nada suara yang rendah hati, sopan dan sederhana.

Rasa syukur juga diucapkannya, dengan tidak serakah menerima apapun limpahan pemberian yang mencoba kami tawarkan. Kesederhanaannya dalam meminta, rendah hatinya dalam bertutur kata, serta rendah diri dalam bersikap namun wajahnya memancarkan keceriaan, mencerminkan rasa syukur si adik kecil terhadap anugerah hidup di tengah kekurangannya.

Saat itulah dalam pikiran penulis sekejap teringat beberapa kilatan peristiwa, bayangkan jika anda menonton bioskop dengan memutar empat judul film di empat layar berbeda, diruangan yang sama dalam waktu bersamaan. Tapi anehnya seluruh detail peristiwa adegan seluruh layar bisa teringat dan disaksikan dengan jelas saat itu juga diwaktu yang sama. Dalam waktu singkat, dan hitungan detik.

Pertama ialah teringat dengan gaya seorang teman yang cenderung High Class. Hobi dengan dandanan bermerk seperti prada, hardy amies, pierre cardin, terobsesi akan gaya dan perilaku kebarat-baratan. Pernah lho penulis coba pakai baju yang berkelas (Pierre Cardin lhoohh), toh juga nggak tahu bedanya dg yg biasa, padahal merknya terbordir dan bisa dibaca dengan jelas dibagian saku. Pakai baju yang beli di pasar, tapi bagus, rapi dan sopan, dianggap sang kawan bahwa baju  penulis mewah dan bermerk. Alamaaak !!!

Kawan ini cenderung kurang rendah diri dan rendah hati, hati kecilnya mungkin tahu dia telah berbuat kesalahan, namun egonya yang terlalu tinggi kadang mungkin gengsi sering pula membuatnya gengsi untuk lebih awal mengakui kesalahan. Padahal kekhilafan bisa terjadi tanpa disengaja. Kawan ini juga suka membanding-bandingkan dengan hal-hal yang menurutnya hal ideal, dan adegan membandingkan ini yang mendadak ter-replay dalam pikiran penulis. Tidak ada salahnya untuk meminta maaf, entah kesalahan itu benar-benar terjadi atau tidak.

Kedua ialah mengingat sang kawan yang sebetulnya sering tampil dengan style dandanan modis, namun selalu saja dipenuhi kisah duka derita cinta. Dari gaya dan tunggangannya udah jelas, keluarganya mampu dan sejahtera. Diberkahi dengan kecerdasan tingkat tinggi, selalu berpikir dengan logika. Sayangnya kadang nggak logis dan melupakan kesederhanaan yang tidak memerlukan pikiran yang cerdas.

Ketiga saat teringat dengan seorang kawan, yang suka akan sebuah aksi petualangan  yang berlebihan dan heboh dengan wanita. Selera  kebutuhan akan masalah makanan cukup tinggi kelasnya. Kadang sih sang kawan bisa bersikap sederhana, namun kadang permintaannya cukup berkelas. Landasannya sih, kalo sumber dayanya cukup kuat, untuk apa memanfaatkan dengan meminta yang biasa-biasa. Sekalian aja yang juga enak. Padahal kawan disekelilingnya berharap untuk lebih yang biasa dan sederhana, bukan berlebihan (walaupun juga mampu).

Keempat ialah mengingat seorang kawan (yang tidak terlalu akrab), dimana sosoknya banyak yang merasa segan akan keberadaannya. Apalagi dengan adanya embel-embel sebuah gelar didepan namanya (entah itu memang sengaja atau tidak dipasangnya, jelas ada tujuannya, dibalik maksud yang tersirat).

Untuk kawan yang terakhir tadi namun penulis jadi ingat akan sebuah komentar  lucunya yang memudarkan bangunan kebijakan dari dirinya. Saat sang kawan sedang berkeluh kesah, hanya tidak ada rekan media yang memberikan perhatian terhadap aksi sosial yang sedang dilakukannya. Padahal banyak petuah bijak yang di syiar’kan oleh dirinya, yang penulis tidak mampu untuk melakukannya. Mungkin butuh pamrih riya’ agar bisa eksis. Heheheheh..

Kalo penulis sih bukannya pengen pamer, cuman ada pepatah, gak narsis gak eksis (gak bermaksud membela diri lho ya). Serta bukan bermaksud sombong lhoo.. Sayangnya beberapa kawan justru melihatnya dari sisi negatif, bahwa eksistensi narsis digunakan untuk pamer. Padahal yang digunakan untuk pamer juga nggak terlalu lebay. Ini bukan termasuk berapologi lhoo..

Back to the case, yang menarik ialah keempat kawan tadi adalah orang dewasa yang jadi obyek film bioskop pikiran penulis adalah sosok-sosok yang sering jadi focus of interest alias pusat perhatian. Semuanya memiliki pesona dan daya tarik yang luar biasa. Memiliki obsesi  dan harapan yang mengagumkan. Dan garis merah utamanya ialah, mereka semua adalah orang dewasa yang cerdas.

Manusia mungkin sumber khilaf, kekeliruan, dan dosa. Tidak ada salahnya bagi kawan-kawan tersebut untuk kembali berkompromi dan mengakui kekhilafannya. Namun jangan jadikan kekurangan dan hakekat bahwa manusia yang selalu berbuat khilaf sebagai alasan berapologi. Kenapa tidak kembali pada hakikat sebuah kesederhanaan ditengah sosoknya yang banyak dijadikan panutan dan sumber inspirasi. Terlalu klise mengatakan bahwa kesalahan tersebut dianggap hal yang manusiawi dan wajar.

Bukan maksud penulis untuk menjustifikasi alias menghakimi. Karena hakekatnya sedang belajar memahami kenyataan, bahwa penulis pun masih berupaya untuk kembali lebih sederhana ditengah kekurangan hidup yang sedang dideritanya saat ini.

Namun dimalam itu di warung kopi, bersyukur kami yang kaum ‘papa’ ini bisa sesekali mengajak nongkrong yang kaum berada dan bisa memberikan suguhan sederhana walaupun hanya segelas teh hangat yang dipinta. Kalo yang dimakan seluruh isi warung, bisa dipastikan penulis akan nitip KTP buat jaminan pembayaran kepada pemilik warung.

Dan penulis berharap bisa mendoakan seluruh kawan yang ada dalam cerita diatas bisa seperti si adik kecil yang polos serta penuh kesederhanaan dianugerahi kekayaan dalam memilih. Walaupun hidupnya sedang berjuang melawan kekurangan dengan bekerja sebagai penjual koran.

Keceriaan sang adik kecil dan kesederhanaan dalam memilih, serta kebijakan dalam memberikan jawaban atas pilihannya. Memancarkan sebuah cahaya yang menerangi ingatan peristiwa kelam dalam pikiran penulis.

Lucunya banyak kawan yang  berbagi dengan penulis dalam mencari solusi masalah. Namun disaat normal, banyak yang mengatakan bahwa apa yang ada dalam pikiran penulis ruwet, mungkin mereka melihatnya terlalu pakai kecerdasan over dosis  kali yah..???

Atau mungkin bertentangan dengan ego dan logika yang sedang dianut, sehingga saat terjadi kesusahan ada sisi penolakan yang dialami sebagai bentuk pertahanan diri (resistensi), dan ketika ingin keluar dari masalah yang rumit, lupa untuk menyederhanakan kerumitan yang ada untuk mencari solusi. Maklum kadang benteng penolakan akan kenyataan yang terjadi secara otomatis akan terbentuk, jika timbul penolakan atau bantahan terhadap kebenaran realita yang nggak sepaham. Itu udah lumrah, dan jelasnya wajib harap dimaklumi.

Terkadang dibalik peristiwa ruwet yang ada didalam pikiran kita, dan yang dialami orang-orang sekeliling kita. Membuat kita harus membantu memunajatkan doa bagi yang sedang ditimpa kesusahan agar menemukan jalan dalam mengatasi kesulitan tanpa harus dipinta. Walaupun yang memunajatkan doa sebetulnya lagi  mengalami kesusahan hidup yang jauh lebih besar daripada yang di doakan. Hehehehehe..

Atau mencoba membantu tanpa harus diminta, dengan resiko kadang dianggap terlalu ikut campur, padahal tidak ada maksud demikian. Ini susahnya, niat baik kadang tidak selalu berakhir dengan baik. Terkadang beresiko harus hilang tali sillaturahmi yang baik.

Mayoritas kawan dalam cerita penulis, diantaranya mengalami kesulitan hidup ditengah-tengah fasilitas dan kemudahan hidup beserta segala kelebihannya, karena memang sengaja mencari hal-hal yang menyebabkan kesulitan hidup. Beruntung mereka lahir ditengah-tengah keluarga yang mapan dan cukup, beberapa diantaranya malah berkecukupan.

Namun kok ya masih aja bawaannya selalu stress, suka menjustifikasi, suka membandingkan, merasa superioritas, kurang rendah hati, serta pasti sering lupa berkata alhamdullillah, dan lain-lainnya. Walaupun gak semua kayak gitu sih ! Kok penulis jadi ikutan menghakimi yah…???!!!

Berbeda dengan si adik kecil yang memang terlahir ditengah keluarga yang pastinya berada ditengah kesulitan hidup berusaha untuk merdeka dari kesusahan dan derita ekonomi. Boleh dibilang, miskin harta kaya hati. Tapi kalo bisa harusnya kaya harta juga kaya hati dong. Pasti mantab tuh.

Penulis bukanlah seorang motivator, bahkan masih merasa ini adalah tulisan yang naif. Malah sering tabiat dan perilaku jauh dari kebijakan dan kewarasan. Ini jika diukur menurut standart mayoritas kewarasan manusia oleh yang mayoritas mereka semua dengan percaya diri mengaku 99 persen adalah manusia / orang logis cerdas waras. Tapi penulis rasa sih mereka juga gak normal (karena pasti gak mau dikatakan paranormal thoo..). Jadi jangan menganggap diri anda semua ini orang yang pikirannya waras / normal. Paham..??

Secara sederhana menurut penulis, hanya orang mencoba waras dengan mengenal apa itu norma, etika, tahu akan kebenaran dan kesalahan serta merasa bermoral. Belajar untuk berpikir cerdas, supaya dianggap memiliki intelegensi.

Jangan kalah dengan orang gila yang ada di rumah sakit jiwa, ditengah keruwetan dan stress dipikirannya. Mereka (yang gila) justru mampu berpikir pendek dan sederhana (walau oleh orang normal dianggap ngawur).

Padahal, kabarnya orang gila termasuk salah satu calon penghuni surga lho. Yang lainnya katanya juga bayi tak berdosa yang meninggal. Ada beberapa golongan lagi orang yang dijanjikan masuk sorga, tapi penulis lupa. Tapi bukan berarti anda juga jangan jadi orang yang sengaja gila lho yaaa.. Tolong di koreksi  jika penulis salah.

Cobalah berpikir kita ini bagaikan bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Namun bisa berusaha menjadi sosok  yang mampu memberi apa saja, dan bagi siapa saja, dengan kerendahan hati, memberikan arti bagi siapa saja. Bisa memberi ‘sesuatu’,  padahal sedang memohon  sebuah permintaan, seperti si adik kecil penjaja koran. Ini yang susah! Tapi hal itulah makna yang tersirat dari si adik penjaja koran kepada penulis.

Ini mungkin sedikit hidayah yang mungkin didapat saat malam ke 21 Ramadhan tahun 2011 yang dialami penulis. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca. Jangan lupa Bersyukur (Asy Syukur), menerima kelebihan dan kekurangan dengan keikhlasan bahwa semua milik Allah, dan percaya bahwa semua akan kembali kepadaNya.

Bagi teman-teman yang jadi sosok percontohan dalam tulisan ini, mohon maaf semuanya yaaah. Toh juga nama dan identitasnya disamarkan. Justru perhatian ini adalah harapan agar kalian bisa koreksi diri, dan bukan karena hal-hal negatif. Jadi bukan karena landasan iri, dengki, ataupun benci. Justru ini adalah bentuk perhatian, karena kalian bisa jadi lebih baik dari yang sekarang, dan banyak orang disekeliling kalian yang sayang dan selalu memberi perhatian serta tidak berharap agar kalian jadi sosok yang Kufur. (dty)

Surabaya – Tgl 20- 21 (nulisnya lama sambil liat TiPi tengah malem persis), Agustus 2011. Malam 21 Ramadhan, In the middle of the night.

Postingan awal : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150274970762702

Sumber Gambar, dari Google : http://images.mahirakoe.multiply.com/image/1/photos/upload/300×300/R-sawQoKCkUAAEqO9uo1/Cartoon%20newspaper.JPG?et=QdQBeWBuEk9W0wiMPGu9QQ&nmid=&nmid=90165684&nmid=90165684&nmid=90165684&nmid=90165684