image

Bahasa merupakan sumber utama kekuatan sebuah BLOG ataupun Social Media seperti Tweeter, Facebook, Fupei, dan sebagainya karena memegang peranan penting baik secara teknis dan non teknis. Tidak jarang penggunaan kata ataupun kalimat yang ada dalam varian penyebutan, justru menyebabkan kebingungan dalam proses pemahaman. Padahal menurut penulis, tujuan utama penyebarluasan informasi lewat tulisan BLOG dan Social Media yang hadir secara OnLine adalah memberikan wawasan, pengetahuan, dan informasi bagi khalayak.

Lantas bagaimanakah jika arti ataupun makna kata, kalimat, ataupun tulisan didalamnya bila tidak dimengerti pembaca? Apakah cukup hanya mengandalkan Feedback Form atau lebih dikenal sebagai Formulir Tanggapan saja, dan hanya bisa dikomentari atau ditanggapi belakangan. Hal-hal inilah yang terkadang cukup dianggap sepele oleh para penulis, ataupun pembuat status (bagi Social Media). Walaupun nantinya akan ada banyak alasan yang bisa menjadi pembenaran.

Banyak contoh tulisan di negara kita yang penulis temui di Internet menggunakan pola bahasa gado – gado yang amburadul. Contohnya ialah menggunakan bahasa judul dengan kalimat dalam bahasa Inggris, lalu tulisan isinya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Penulis tidak perlu menyebutkan contoh tulisan, namun ini acap kali ditemui pada tema yang berbau teknologi, yang memang mayoritas menggunakan bahasa asing, dan janggal jika menggunakan bahasa Indonesia.

Namun banyak kasus yang bisa dilihat, bahwa dari segi judul sebetulnya lebih baik bisa menggunakan bahasa Indonesia saja, daripada menggunakan bahasa asing. Lagipula mayoritas pengunjungnya ialah berasal dari negara sendiri. Logika sederhana ialah pembaca ingin informasi yang mudah dipahami dan sederhana serta “membumi”, walaupun gaya judulnya memiliki pencitraan bahasa “langit”. Lagipula yang dilirik adalah isi tulisan, yang akan lebih baik jika penulisan judulpun juga memiliki gaya senada .

Apakah tujuannya hanya agar mudah dicari oleh mesin pencari, atau yang dikenal dengan nama Search Engine Optimizer (SEO) ? Atau memberikan agar bahasa yang digunakan sesuai pakem standar yang berlaku ?

Bagi penulis jika alasannya hanya untuk memberi perlakuan standar, kok rasanya itu bukan hal yang utama, walau bagi sebagian orang itu adalah hal yang utama. Dulu penulis sempat terjebak dalam euphoria bangga dan merasa sudah memakai istilah pas dalam penggunaan kata-kata / kalimat berbahasa asing, padahal masih padanan kata dalam bahasa Indonesia juga nggak kalah cantiknya dengan arti yang sama.

Sekarang perasaan tersebut sudah beranjak hilang, karena tersadar akan sebuah jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Jika tujuannya untuk edukasi, setidaknya penggunaan bahasa / kalimat asing akan terasa jauh lebih bermanfaat jika dituliskan ulang arti kata / kalimat tersebut berikut pemahaman yang sama atau setidaknya yang mendekati. Jika sudah tidak ada, atau bila berpotensi menimbulkan interpretasi yang berbeda, barulah bisa menggunakan kalimat / kata asing tersebut tanpa harus diterjemahkan, namun harus disertai sedikit penjelasan maksudnya.

Jika bertujuan agar tulisan di Blog bisa dengan mudah dicari, maka alasan ini juga penulis setujui, tapi tidak secara total. Kenyataannya ialah masih banyak pilihan dalam mencari kata dalam berbahasa dengan benar, kecuali memang si penulis agak malas dan kita anggap saja juga tidak tahu istilahnya dalam bahasa Indonesia. Dalam fitur umum sebuah blog, disertakan sebuah kolom penanda (tag), dimana penulis bisa memasukkan kata kunci agar bisa menjadi rujukan bagi mesin pencari di Internet dengan cepat.

Crop FB

Penulis mencoba menampilkan contoh lewat kiriman publikasi (posting) status di Social Media Facebook. Salah satunya dari tim MSDN Indonesia, yang berusaha mengurangi istilah dalam berbahasa Inggris. Kata ‘cloud’ yang juga merupakan jargon dalam dunia teknologi, diganti dengan kata “awan”. Kata Download diganti dengan kata unduh. Walaupun terdapat tulisan download terlihat, karena efek tautan (link) yang memuat tampilan (preview) dalam bentuk gambar. Dari cuplikan gambar tersebut nampak jelas bahwa upaya memerdekakan nasionalisme lewat penggunaan bahasa sudah mulai berjalan. Walaupun tidak semua orang tentunya bisa menerapkan dengan lancar (termasuk penulis).

Negara Indonesia, tempat dimana kita tinggal, hidup, bernapas, hingga buang hajat, secara tidak sadar telah dijajah dalam berbagai hal. Kebiasaan yang menganut pola gaya barat sudah dianggap sebagai sesuatu yang dianggap menjadi kebanggaan, padahal dunia barat justru belajar dari kearifan dan kebijakan negeri timur. Memang dalam industri TI, pihak asing merupakan pencetus dan pencipta awal beragam teknologi yang kini banyak digunakan. Sehingga banyak literasi ataupun istilah, nampaknya lebih pas jika menggunakan kata atau kalimat dalam bahasa asing.

Penggunaan kata atau kalimat dalam bahasa asing juga diperparah dengan aktifitas penjiplakan karya tulis. Banyak pemuatan tulisan Blog yang secara persis mencuplik isi tulisan dari penulis lain, tanpa memahami isi dan arti tulisan. Yang lebih parah, banyak penulis blog yang tidak mengerti isi tulisan yang di jiplak karena banyak menggunakan istilah dalam bahasa asing, serta tidak mencantumkan sumber penjiplakan. Namanya juga menjiplak yah..??.. hehehehehehe

Kombinasi Penggunaan Kata

Bagi para pengusaha, penggunaan kata kunci yang tepat dalam metode publikasi akan bisa mempengaruhi sebuah keberhasilan. Tehnik agar mendongkrak popularitas melalui proses menaikkan peringkat, merupakan daya tarik besar dan alasan utama dalam pemilihan penggunaan kata / kalimat. Ada sebuah solusi jitu agar proses edukasi dalam pengenalan istilah yang memang harus menggunakan bahasa asing, ialah dengan menyebutkan pula terjemahan artinya. Dalam hal ini yang diuntungkan ialah pembaca !

Banyak penulis yang tidak menyadari dan memahami segmentasi pembaca.

Jika tulisan seorang penulis menciptakan karya yang isi dan muatannya memang dikemas dalam bahasa Indonesia, kenapa harus susah-susah terlalu sering menggunakan kata / kalimat dalam bahasa asing. Penggunaan kombinasi kata dan kalimat juga akan menambah kemudahan referensi mesin pencari internet. Apalagi isi tulisan yang dikemas dalam bahasa Indonesia, pastinya sang pembaca juga harus paham bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Artinya, ya mayoritas adalah orang Indonesia sebagai pengguna bahasa Indonesia.

Dalam kategori blog tertentu, penggunaan istilah teknis memang berasal dari kata / kalimat asing. Tetapi untuk saat ini, sudah banyak muncul terjemahan dalam bahasa Indonesia yang digunakan. Banyak pula Blog yang dibuat dengan menggunakan fasilitas  pilihan bahasa lebih dari satu. Tujuannya agar bisa memberikan informasi tambahan bagi pengunjung atau pembaca dari negara lain.

Tentunya ada energi tambahan oleh si penulis untuk melakukan kegiatan penerjemahan, serta tidak semua blogger (penulis blog) mau menerapkannya dengan berbagai alasan teknis sebagai penolakan. Maklum, membuat fasilitas pilihan menu bagi pembaca agar bisa menggunakan pilihan baca dalam bahasa lain juga menyita waktu dan tenaga.

Jika penulis hanya mempublikasikan ulang tulisan dari penulis, terutama dari penulis luar dengan bahasa yang berbeda. Akan lebih menyenangkan jika sudah menterjemahkannya sebisa mungkin. Lagipula saat ini proses menterjemahkan sudah cukup menyenangkan, karena ada kamus digital di internet yang bisa digunakan dalam menterjemahkan dengan cepat. Hanya cukup menyunting ulang, agar lebih enak dibaca. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber referensi halaman, atau tulisan yang digunakan sebagai wujud apresiasi terhadap karya cipta.

Penggunaan fitur Blog agar bisa menyediakan pilihan baca dalam lebih dari satu bahasa juga sangat membantu bagi para Blogger yang menggunakan media Blog dalam menjalankan usaha. Bahasa yang sering digunakan memang yang menjadi bahasa favorit ialah bahasa Inggris, karena segmentasi baca yang begitu luas, serta merupakan bahasa internasional. Adanya referensi penggunaan bahasa asing, juga akan memudahkan mesin pencari di internet dalam menginformasikan keberadaan di Blog. Sehingga akan memberikan nilai tambah, dan memperlancar kegiatan usaha dan promosi para Blogger.

Jangan pula gunakan bahasa, kalimat, atau jargon yang hanya sebagian orang yang paham, dan hanya dimengerti oleh sang pembuat blog dan komunitasnya. Ini kerap terjadi dalam tulisan di Blog Komunitas. Sadarilah jika ingin menyebarluaskan informasi, bayangkanlah sebagai orang awam saat ingin menulis dalam sebuah Blog.

Penulis blog harus bisa menjadi pembaca, dan mengerti bahasa pembaca. Pada kasus tertentu, mungkin target pembacanya memang harus berbahasa Inggris. Lihatlah segmentasi potensi bacanya. Misalnya, pengguna bahasa Inggris termasuk negara Inggris dan Australia juga memakai bahasa tersebut, namun jika banyak pembaca dari pengguna bahasa Inggris bisa lebih memahami dengan gaya bahasa Inggris US atau Amerika, maka gunakan gaya yang sama. Mengajak atau menyewa orang yang bisa menterjemahkan dalam gaya bahasa asing negara tersebut bisa mengurangi beban tenaga dalam menterjemahkan.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat. Serta tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui ataupun menganggap bahwa opini penulis merupakan sebuah pemikiran yang benar, namun dari tulisan ini semoga bisa memberikan tambahan pemikiran yang bisa bermanfaat dalam proses penambahan wawasan dan referensi pemikiran. Dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.(Ditya)

 

URL Foto : http://ww1.be-viewed.info/2011/08/how-and-why-to-learn-foreign-language-fast/

Blogger : orang yang memiliki atau memelihara suatu blog atau sering disebut juga blogosphere. (http://id.wikipedia.org/wiki/Blogger)