IMG00216-20120424-1817

Surabaya-April, Beberapa waktu yang lalu, penulis bertandang kesebuah tempat makan di mall KAZA Surabaya. Tepatnya di Kahve Nero, tempatnya lumayan cozy (nyaman), dan cukup santai, karena memang pada saat itu sedang menanti teman. Seperti biasa, nggak mantap kalau tidak mencoba incip-incip sajian menu yang ditawarkan.

Pandangan mata penulis tertuju pada sebuah tampilan daftar menu paket yag ada di meja. Sengaja tidak memesan menu yang dihantarkan pelayan, karena biasanya justru menu yang langsung terlihat menjadi daya tarik untuk memikat konsumen. Dan sasaran incip kali ini ialah menu Paket 3 yang diberi nama Rice Breaded Chicken.

IMG00215-20120424-1816

Harganya cukup ekonomis, dan cukup aman bagi kantong para pelajar, karena hanya Rp.12.500,-/orang. Untuk sekelas gerai makan di mall, harga ini masih dirasa cukup wajar. Ditambah ada promo, bagi pemesan paket menu tersebut berhak mendapatkan segelas Es Teh ! Asyiknya penulis saat itu bisa meminta agar Es Teh boleh ditukar menjadi Teh Panas, karena memang sedang tidak ingin minum minuman dingin.

Waktu penyajian juga masih standart, kurang lebih sekitar 10 hingga 15 menit. kalau dari hitungan waktu, masih dirasa belum terlalu lama. Apalagi dari nama menunya, memang harus diproses dengan metode waktu pemasakkan dengan durasi tertentu. Dan sambil menanti hidangan disajikan, maka rekan-rekan penyaji rupanya cukup sigap menyajikan minuman dengan cepat.

Rice Breaded Chicken saat disajikan sebetulnya sekilas mirip dengan ayam goreng biasa. Hanya saja nasi yang ada dipiring juga masih terasa cukup hangat, walaupun disajikan dalam kondisi terbuka dan dicetak bulat seperti mangkok. Berbeda dengan gerai resto makanan cepat saji yang beberapa diantaranya malah menyajikan nasi dibungkus dalam kertas. Soal porsi nasi menu Rice Breaded Chicken, ini cukup pas, artinya tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Hanya saja yang biasa makan nasi dalam porsi lebih, nampaknya harus memesan nasi tambahan.

Ayam yang disajikan berupa ayam goreng yang dibalut dengan tepung roti, saat penulis menikmatinya ayam tersaji tanpa tulang (fillet). Terdapat sayuran pendamping, yang dimasak hapir mirip dengan cap cay. Ragam sayurannya ada wortel, baby corn, kubis, dan sawi dengan bumbu kental dan berasa sekali saat itu rasa dari kecap asinnya. Untungnya ada nasi sebagai pendamping makan, sehingga pantas disebut sebagai lauk.

IMG00217-20120424-1823Rasa sang ayam juga sudah pas, namun dibeberapa potongan ada beberapa yang sedikit asin. Kemungkinan proses mencampur bumbunya atau membalurnya sebelum ayam di masukkan minyak panas, agak buru-buru demi mengejar waktu saji. Gorengan sayurnya juga pas. Karena sayur diproses tidak terlalu matang menghindari tampilan yang layu karena kematangan. Hal ini menunjukkan sang juru masak piawai memasukkan bahan masak yang harus diproses lebih dahulu dalam wajan.

Hasilnya sayur masih terasa renyah dan segar. Apalagi ketika sayur dipadu dengan potongan Ayam goreng bersama nasi, membuat rasa didalam mulut terasa pas. Kombinasi yang pas bagi menu yang cukup hemat, sudah bisa mendapatkan protein, karbohidrat, dan sayuran di gerai makan sebuah mall.

Memang jumlah porsi potongan ayam yang tersaji tidak begitu banyak, namun kombinasi sayur dan nasi cukup pas untuk mengganjal perut, dan porsinya juga pas bagi yang tidak ingin menu dengan porsi mubazir. Rasa menu ini mengarah dominan rasa gurih dan asin, jadi sangat pas jika penulis merekomendasikan agar teh hangat bersanding saat menikmati menu ini, daripada harus memesan es teh. Lagipula suasana ruangan yang cukup nyaman serta hembusan AC juga sudah berasa cukup dingin. (ditya)